Rabu, 20 November 2013



Ichan, begitulah orang-orang memanggilku. Entah berasal dari mana nama itu, aku juga tidak tahu. Kalau dilihat mungkin agak aneh, karena nama asliku sangat jauh dari sapaan itu. Namun, aku senang dengan nama itu. Mungkin nama itu membawa berkah bagiku. Aku enjoy menanggapinya.
Alkausarni, itulah nama resmi yang tertera pada kartu keluarga dan akta kelahiranku. Asli dari Aceh, anak Laskar Keurupuk Mulieng Sigli. Alhamdulillah lahir dalam keadaan normal di atas ranjang yang ada wilayah seputaran Garot persisnya di Meunasah Keutapang, Gampong Aree. Aku lahir bertepatan tanggal ulang tahun presiden Indonesia, SBY, pada 9 september 1992. Ya, lumayanlah untuk numpang tenar.
Ayahku bernama AgusniAku tidak tahu bagaimana ayahku bisa bertemu dengan Ibuku, Kartini. Ibuku juga asli dari Sigli, tapi besar di Medan. Makanya aku bingung bagaimana orangtuaku ini bisa bertemu. Mungkin itulah yang dinamakan "jodoh tak kan lari kemana".
Aku memiliki keluarga yang lumayan cukup besar. Orangtuaku adalah warga negara yang taat pada peraturan negara, yaitu menjalankan program KB (Keluarga Besar). Aku anak ketujuh dari delapan bersaudara, lima laki-laki dan tiga perempuan, yang Alhamdulillah lahir dalam keadaan selamat semua. Aku juga bingung kenapa semua saudara-saudariku memiliki nama yang huruf awal dan akhirnya sama. Banyak teman-teman yang menanyakannya. Untuk sementara ini aku belum mendapatkan jawaban yang pasti kenapa bisa begitu. Kalau menurutku mungkin itu bisa saja kebetulan atau bisa jadi mengikuti huruf awal dan akhir dari nama ayahku. Baiklah, aku akan membeberkan nama saudara-saudaraku disertai foto juga agar pembaca tidak penasaran.

1.        Asrini 
Ini kakakku yang pertama. Sudah menikah dan punya dua putri dan satu putra. Kalau di rumah biasanya dipanggil dengan sebutan kak As atau Rini. Dia ini penopang ekonomi keluarga kami. Orangnya keras, tapi penyayang. Kakakku ini sekarang sedang mengembang bisnisnya yang telah dijalani sejak dia masih duduk di bangku sekolah. Kelemahannya tidak bisa bergaya apabila akan dipotret. Kalau sudah emosi tidak ada yang sanggup melawan perlu usaha yang kuat untuk meredam emosi kakakku satu ini. Tapi intinya beliau orangnya sangat penyayang.
2.        Azarni
 Roly, itulah sebutan nama samaran abangku ini, tapi aku memanggilnya dengan gelar Boly. Anak kedua dengan wajah manis dan garang. Memiliki banyak keahlian, selaen bisa menangani pekerjaan kaum Adam juga mampu menyelesaikan pekerjaan kaum Hawa. Abangku ini memilikii tugas sebagai security keluarga kami. Sudah menikah dan dikaruniai dua anak perempuan.
3.        Ansarni
 Abangku yang satu ini memiliki otak yang cerdas. Di pesantren dia terkenal dengan sebutan Anco. Kalau di rumah kami memanggilnya ustadz, mungkin karena latar belakang pendidikan dari pesantren kami menyebutnya seperti itu. Posturnya agak kecil, ya mungkin sekitar 155 cm. Tapi jangan anggap remeh ya, beliau gesit dan lincah dalam hal menggiring bola. Kalau tidak percaya silakan saja main bersamanya.



4.        Azirni
 Di rumah kami memanggilnya dengan nama Bundet (bunda gendut), tidak terlalu gendut juga orangnya. Tapi nama samaran asli kakak ku ini adalah Icik. Disiplin, rajin, dan bersih adalah profilnya. Sudah menikah dan baru dikaruniai satu anak perempuan yang memiliki suara yang dahsyat. Semasa SMA dan kuliah, kakakku hidup jauh dari kami. Delapan tahun berpetualang di kota Metropolitan Medan dengan kondisi ekonomi keluarga kami yang sedang carut marut pada saat itu. Tapi dengan keyakinan yang kuatnya, dia  mampu menjalani hidupnya yang jauh dari kami.
5.        Anfalni
 Abangku yang satu ini adalah orang yang paling humoris di rumah. Dia yang memberikan julukan-julukan pada kami. Dia sangat kreatif dalam hal itu. Ipan sapaan sehari-harinya. Di rumah, kami memberikan gelar kepadanya sebagai asisten enyak. Itu karena dia dekat sekali dengan ibu kami. Dalam urusan olahraga, khususnya sepakbola dia ahlinya. Setiap ada turnamen sepakbola Agustus-an abangku ini tidak pernah absen mengikutinya. Bahkan, aku dan dua abangku yang lain (Azarni dan Ansarni) pernah bermain di tim yang sama dengannya. Sehingga banyak yang menyarankan agar kami membuat klub dari keluarga kami sendiri. Dialah  abang yang paling dekat denganku.
6.        Asfahmi
Cewek yang satu ini adalah kakakku yang bisa dibilang paling cantik di antara kakak-kakakku yang lain. Saat ini kakakku bekerja di salah satu showroom sepeda motor yang ada di daerah tempat tinggal kami. Ingin kuliah tapi tidak kesampaian, itulah cita-citnya. Tapi sekarang dia sudah memiliki penghasilan sendiri dan imbasnya lari kepadaku. Setiap bulan pasti ada saja beberapa nominal yang aku dapat dari hasil keringat kakakku ini. Sudah banyak mungkin yang aku habiskan dari penghasilannya. Nama samaran kakakku ini adalah Ipah, kalau di rumah memiliki julukan "bukrim", itu karena dia suka krimbat.
7.        Alkausarni
Itu aku, kalau aku tidak perlu dikenalkan lagi ya. Intinya aku orang paling ganteng di dunia ini. Itu menurut versi ku sendiri, kalau menurut versi pembaca bagaimana?. Tapi kebanyakan orang mengatakan begitulah. Jangan lupa panggil aku Ichan atau bisa juga Nachi.




8.        Afifni
Yang satu ini tempat lahirnya beda dengan kami. Adikku ini lahir di Subulussalam, memiliki badan yang bisa dibilang cukup besar dan atletis disertai dengan wajah tampan dan sangar. Anak yang paling bontot dan bandel. Sekarang masih duduk di bangku SMP. Kami memanggilnya dengan nama Apit si raja Point Blank.

Itu lah gambaran profil singkat keluargaku. Sekarang kami tinggal di Kota Subulussalam, daerah perbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara tepatnya di jalan Cut Nyak Dien, Kecamatan Simpang Kiri. Jangan lupa mampir ya. 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar