Senin, 04 November 2013

PENULISAN SURAT LAMARAN KERJA


PENULISAN SURAT LAMARAN KERJA





disusun untuk menyelesaikan tugas presentasi
pada mata kuliah Komunikasi Bisnis




oleh:
kelompok III
Alkausarni : 411106225
Dewi Sartina : 411106226
T. Raja Iskandarsyah : 411106228
Ikhsanun Fahmi : 411106211









Institut Agama Islam Negeri ar-Raniry
Fakultas Dakwah
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Darussalam, Banda Aceh
2012
KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Penulisan Surat Lamaran Kerja, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “Penulisan Surat Lamaran Kerja” yang menjelaskan bagaimana menulis surat lamaran kerja yang ditujukan kepada sebuah organisasi/lembaga yang membutuhkan tenaga kerja.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Komunikasi Bisnis yang telah membimbing penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

                                    Banda Aceh, 24 November 2012

                                                                                                Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR..................................................................................................1  
DAFTAR ISI.................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................3
A.    Latar belakang....................................................................................................3
B.     Rumusan masalah...............................................................................................3     
C.     Tujuan.................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................5
A.    Surat lamaran kerja.............................................................................................5
1.      Attention......................................................................................................5
2.      Interest.........................................................................................................5
3.      Desire...........................................................................................................5
4.      Action...........................................................................................................6
B.     Pengorganisasian surat lamar..............................................................................6
1.      Paragraf pembuka.........................................................................................6
2.      Paragraf pertengahan....................................................................................7
3.      Paragraf penutup...........................................................................................8
C.     Tips untuk pelamar kerja...................................................................................12
BAB III PENUTUP......................................................................................................13
A.    Kesimpulan........................................................................................................13
B.     Saran..................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................14



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap Insan, setiap pribadi, dan semua orang pasti sama tentang keinginan dalam hal pekerjaan,yakni nendapatkan pekerjaan yang layak. Namun kembali lagi, untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bersaing dengan semua orang kita harus mempunyai skill unik bukan?. Kita semua tahu bahwa no bodies perpect bukan? Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Maka dari itu, setiap Orang telah dilahirkan dengan skill masing-masing yang Tuhan Kasih. 
Kita sebagai mahluk ciptaan-Nya hanya berusaha untuk mencari dan menggali potensi-potensi yang ada pada diri kita. Maka dari itu salah satu dalam usaha ikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan yang di inginkan adalah selain memperkaya potensi yang ada, perlu di perhatikan juga dalam hal surat lamaran. Terkadang kita terlau Fokus terhadap materi-materi yang akan kita demokan atau perlihatkan, namun untuk surat lamaran kerja malah tidak terlalu diperhatikan. Ada pepatah mengatakan, penampilan bisa menggambarkan kepribadian seeorang. Sama halnya dengan surat lamaran kerja , karena rata-rata perusahaan atau instansi-instansi melihat pelamar dari surat lamarannya itu. Maka dari itu salah satu usaha dalam hal mensukseskan diri agar bisa masuk dan diterima di perusahaan yang diincar, dengan melihat dan mempelajari Contoh Surat Lamaran Kerja yang baik dan benar. Diharapkan setelah mempelajari surat lamaran yang baik dan benar akan menambah rasa percaya diri kita untuk melamar pekerjaan yang diincar.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan surat lamaran kerja?
2.      Pendekatan apa saja yang dipakai dalam penulisan surat lamaran kerja?
3.      Bagaimanakah teknik penulisan surat lamaran kerja?
4.      Apa yang perlu diperhatikan pelamar kerja dalam hal penulisan surat lamaran kerja?
5.      Apa yang harus dihindari pelamar kerja dalam hal penulisan surat lamaran kerja?

C.  Tujuan
1.      Agar kita mengetahui apa itu surat lamaran kerja.
2.      Apa kita mengetahui pendekatan apa saja yang dipakai dalam penulisan surat lamaran kerja.
3.      Agar kita mengetahui teknik penulisan surat lamaran kerja.
4.      Agar kita mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan pelamar kerja dalam hal penulisan surat lamaran kerja.
5.      Agar kita mengetahui hal-hal saja yang harus dihindari pelamar kerja dalam hal penulisan surat lamran kerja.















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Surat Lamaran Kerja
Surat lamaran kerja adalah surat yang digunakan oleh oelh seseorang untuk melamar kerja pada suatu organisasi/lembaga yang membutuhkan karyawan atau pimpinan pada perusahaan tertentu. Pada umumnya ketika melamar kerja, seseorang harus menulis surat lamaran kerja yang dilengkapi dengan sebuah resume (daftar riwayat hidup). Dalam surat lamaran kerja, dijelaskan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh pelamar kerja yang cocok atau sesuai dengan posisi/jabatan yang ditawar, atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pelamar kerja hanya mengemukakan poin-poin  penting yang relevan dengan persyaratan pekerjaan yang ditawarkan.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam membuat surat lamaran kerja adalah pendekatan Attention, Interest, Desire, and Action (AIDA). Penjelasan lebih rinci tentang masing-masing pendekatan AIDA tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Attention (Perhatian)
Artinya, pelamar kerja harus dapat meyakinkan pihak organisasi/lembaga pencari kerja (pembaca) bahwa pelamar kerja memiliki sesuatu yang bermanfaat atau dapat menumbuhkan rasa tertarik bagi pembaca. Jelaskan ide/gagasan yang membuat pembaca antusias untuk menyimak apa yang anda tuliskan. Pembaca tentunya  bertanya-tanya tentang manfaat yang ia peroleh. Pelamar kerja dapat juga mengemukakan tentang bagaimana ia mendapatkan informasi lowongan kerja dan alasan mengapa ia tertarik pada posisi jabatan tersebut.
2.    Interest (Menarik)
Artinya, pelamar kerja harus dapat menarik perhatian pembaca dengan menjelaskan relevansi pessan-pesan yang disampaikan. Dalam hal ini, pelamar perlu menjelaskan dan menegaskan bahwa kualifikasi yang dibutuhkan tersebut relevan dengan kemampuan yang dimiliki dan ia yakin mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik.
3.    Desire (Hasrat)
Artinya, pelamar kerja harus dapat menumbuhkan hasrat pembaca untuk mengetahui lebih jauh apa yang sudah dituliskan dalam surat tersebut. Pelamar kerja juga dapat meyakinkan pembaca melalui bukti-bukti pendukung yang relevan dengan posisi yang dikehendaki.
4.    Action (Tindakan)
Artinya, pelamar kerja harus dapat memberikan saran kepada pembaca untuk mengambil suatu tindakan tertentu berkaitan dengan harapan/keinginannya dalam menulis surat tersebut. Salah satu tindakan tertentu yang dapat dilakukan oleh pembaca adalah memberikan kesempatan untuk melakikan wawancara keraja (job interview).

B.  Pengorganisasian Surat Lamaran Kerja
1.      Paragraf Pembuka
                        Surat lamaran kerja sebagaimana bentuk surat-surat bisnis yang lain, harus dibuat sebaik mungkin dan menarik perhatian bagi pembaca. Surat lamaran kerja harus menyatakan secara jelas bahwa pelamar kerja sedang melamar suatu pekerjaan, sehingga ia perlu juga mengidentifikasi jenis pekerjaan yang diminati.
                        Surat lamaran kerja yang baik, yang menarik perhatian pembacanya, perlu mencantumkan hal-hal berikut ini.
a.      Rangkuman
Pada bagian awal surat lamaran kerja, pelamar kerja perlu mengemukakan kualifikasi yang dimiliki, yang paling relevan dengan jabatan yang diinginkan dan jelaskan bahwa kualifikasi tersebut akan menguntungkan/memberikan manfaat bagi perusahaan atau lembaga yang dilamar.
b.      Nama
Pelamar kerja dapat menyebutkan nama seseorang yang sudah dikenal oleh pembaca (yang menawarkan kerja) atau seseorang yang menyarankan pelamar kerja untuk melamar pekerjaan di perusahaan atau lembaga tersebut. Meskuipun demikian, pemenuhan terhadap kualifikasi yang dibutuhkan tetap menjadi penilaian yang pertama dan utama. Pada umumnya, pola ini digunakan ketika lowongan/kesemoatan kerja tersebut hanya digunakan untuk kepentingan internal organisasi tersebut, misalnya jumlah karyawan baru yang dibutuhkan hanya satu orang, maka pola rekrutmennya cenderung tertutup, buka terbuka.

c.       Sumber Publikasi
Sebutkan dari mana pelamar kerja mendapat informasi tentang adanya lowongan kerja di perusahaan tersebut. Sumber informasi ini antara lain surat kabar, majalah, radio (sebutkan nama surat kabar/majalah dan tanggal penerbitan, atau nama radio dan tanggal diumumkan). Dalam surat lamaran jelaskan secara singkat bahwa pelamar kerja memenuhi persyaratan yang dikehendaki oelh perusahaan.
d.      Pertanyaan
Gunakan kalimat tanya pada awal paragraf untuk menarik perhatian pembaca yang menunjukkan bahwa pelamar kerja mengetahui problem, kebutuhan, dan tujuan suatu organisasi serta mempunyai keinginan untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Jadi, hal itu akan memberikan manfaat bagi pembaca.
e.       Cuplikan Berita
Pelamar kerja dapat mengambil cuplikan berita di surat kabar atau majalah yang menyebutkan bahwa suatu perusahaan sedang merencanakan membuka kantor cabang, memperkenalkan produk baru, atau memerlukan tenaga operator, dan sebagainya.

2.      Paragraf Pertengahan
                        Setelah menarik perhatian pembaca pada awal paragraf, pelamar kerja perlu menyajikan kualifikasi yang dimilikinya untuk mengisi suatu pekerjaan yang diinginkannya. Dalam suatu ruangan yang singkat (mungkin tidak boleh lebih dari tiga paragraf) pelamar kerja tidak boleh mengulang apa yang sudah dinyatakan dalam resume. Usahakan penjelasan dalam paragraf tersebut benar-benar sangat diminati dan sangat diharapkan pembaca.
                        Dalam paragraf pertengahan ini pelamar kerja perlu mendiskusikan kualifikasi yang dimilikinya dari sudut pandang pembaca yang mencakupi:
a.      Pendidikan
Kebanyakan para lulusan suatu perguruan tinggi mempertimbangkan pendidikan sebagai kualifikasi yang paling penting. Jika demikian, mereka harus menempatkan pendidikan pada bagian yang pertama, baik pada surat lamaran maupun pada resume. Pada bagian pendidikan ini, pelamar kerja akan dapat:
1)   Menunjukkan bahwa ia mempunyai latar belakang dalam dunia bisnis yang mencakup luas dan bidang tertentu secara mendalam.
2)   Menunjukkan bagaimana pendidikannya relevan dengan jenis pekerjaan yang dilamar.
3)   Menjelaskan bagaimana dan mengapa ia menambahkan bidang studi pilihan penting di luar bidang studi ini.
b.      Pengalaman Kerja
Berbagai jenis pekerjaan yang pernah dilakukan, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilamar, dapat digunakan dapat membantu memperkuat kualifikasi yang dimilikinya. Dalam hal ini, pelamar kerja perlu menyatakan secara jelas berbagai fungsi atau kegiatan yang dapat dilakukan. Atas dasar itu, pelamar kerja akan dapat menunjukkan kepada pembaca bahwa:
1)   Pelamar kerja memperolah suatu pengalaman yang dapat membantu mempercepat penyelesaian tugas/pekerjaan baru.
2)   Pelamar kerja akan dapat melakukan adaptasi dan mencoba bekerja sama dengan lingkungan.
3)   Pelamar kerja dapat memikul tanggung jawab suatu pekerjaan dengan lebih baik.
4)   Pelamar kerja adalah orang yang mampu bekerja keras.

c.       Sikap, Minat, Aktivitas, dan Kualitas
Selain latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, pelamar kerja dapat menambahkan berbagai informasi tambahan yang dapat mendukung pekerjaan yang dilamar. Pelamar kerja dapat menjelaskan tentang kemampuannya dalam melakukan kerja sama dengan orang lain, sikap pelamar kerja terhadap bidang pekerjaan, perusahaan, suasana kerja, dan kualitas personal (kegiatan ekstrakurikuler dan sejenisnya).

3.      Paragraf Penutup
                        Paragraf terakhir dari surat lamaran kerja pada umumnya berisi suatu harapan tindakan sebagaimana yang terdapat pada surat-surat penjualan. Pelamar kerja dengan jelas menyatakan keinginannya untuk melakukan wawancara sesuai dengan waktu yang telah disediakan oleh organisasi perusahaan atau lembaga yang dilamar.
                        Untuk mempermudah pihak perusahaan menghubunginya, pelamar kerja perlu memberikan alamat yang jelas dan lengkap, termasuk nomoe telepon, faksimile (kalau ada), alamat e-mail (bila ada), dan jam berapa pelamar kerja dapat dihubungi, pagi, siang atau malam hari. Untuk beberapa perusahaan, barangkali pelamar kerja perlu melampirkan amplop plus prangko balasannya. Namun, ada juga beberapa organisasi perusahaan yang tidak mensyaratkan untuk melampirkan prangko balasan.
                        Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa dilihat dari cara pengorganisasiannya, surat lamaran kerja memiliki kesamaaan dengan surat penjualan (sales letter) yang sama-sama menggunakan cara-cara persuasif. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.

§  TABEL 13.1: Pengorganisasian Surat penjualan dan Surat Lamaran Kerja
Surat penjualan
Surat lamaran kerja
¨      Mencari perhatian
¨      Perkenalkan produk
¨      Berikan bukti
¨      Dorong suatu tindakan/aksi
¨      Mencari perhatian
¨      Perkenalkan kualifikasi
¨      Berikan bukti
¨      Dorong suatu tindakan/aksi

                        Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini disajikan beberapa contoh surat lamaran kerja yang lowongannya diiklankan di surat kabar dan berdasarkan informasi dari seseorang yang memiliki akses informasi dari perusahaan atau lembaga yang dilamar.











Subulussalam, 24 November 2012

Yth. Manajer Personalia
PO Box 67126
Jakarta 1000


Dengan hormat,

Iklan Bapak di Juwita Pos tanggal 17 Desember 2012 menarik perhatian saya, karena saya memiliki kulifikasi yang disyaratkan untuk menduduki posisi Sekretaris. Di samping memiliki kemampuan berbahasa Inggris, baik secara lisan maupun tulisan, saya juga mampu mengoperasikan sistem komputer yang Bapak gunakan saat ini.

Saya berusia 20 tahun, belum menikah, dan memiliki kesehatan yang sangat baik. Saya lulusan Akademik Sekretaris Prima Juwita  Subulussalam dengan indeks prestasi 3,8. Di samping itu, saya baru saja menyelesaikan kursus komputer yang diselenggarakan oleh  LPK Nusantara. Saya mengikuti kursus komputer untuk mempercepat tugas-tugas menulis surat dan laporan-laporan bisnis. Lokarya tentang penulisan surat dan laporan-laporan bisnis yang diselenggarakan oleh beta Prima Group  telah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi penyelesaian tugas.

Hasil pelatihan tersebut telah dapat membantu saya dalam menyelesaikan berbagai tugas secara efisien sepeti surat penjualan, surat penawaran, surat jual beli dan laporan keuangan.

Pada saat ini, saya adalah Sekretaris pada PT Adiguna dengan pengalaman dan prestasi 2 tahun. Saya sedang mencari kesempatan kerja yang lebih menantang untuk memperluas wawasan dan pengalaman sebagaimana yang Bapak tawarkan.

Saya sangat gembira, jika Bapak berkenan mempertimbangkan prestasi dan kualifikasi saya. Panggilan untuk wawancara dengan Bapak, sungguh sangat saya harapkan.


Hormat saya,



Dewi Sartina



Lampiran: Resume


§  GAMBAR 13.1: Surat Lamaran Kerja -  Sumber Surat Kabar




Subulussalam, 10 Desember 2012

Yth. Manajer Personalia
PT DIPAYUDHA
Jalan Cut Nyak Dien 69
Subulussalam 57126

Dengan hormat,

Ketika Bapak Ichan Alkausarni Nachi, Divisi Produksi PT DIPAYUDHA, berbincang-bincang dengan saya, beliau menyatakan bahwa Bapak sedang mencari seorang sarjana ekonomi jurusan manajemen untuk menduduki posisi staf  pemasaran. Atas informasi tersebut, saya memiliki kualifikasi yang sesuai dengan persyaratan yang Bapak kehendaki. Lagi pula, selama satu tahun saya telah mengikuti program pelatihan pemasaran pada Juwita Marketing Training Centre di Subulussalam.

Saya berusia 25 tahun, bujangan, dan memiliki kesehatan yang prima. Berbagai mata kuliah bidang bisnis yang saya peroleh selama masa studi dan pelatihan pemasaran telah memberikan bekal yang sangat berharga bagi saya  dalam melakukan analisis pasar, segmentasi pasar, dan strategi peluang bisnis, keterampilan komputer  yang saya peroleh selama 6 bulan pada  juwita komputer center di Surakarta  akan sangat membantu menyelesaikan tugas-tugas pada perusahaan Bapak.

Saya menyertakan referensi Dr. Muhammad Habibie, direktur Juwita Marketing Training Center, dan yang lainnya dalam resume untuk memberi konfirmasi mengenai karakter dan kemampuan saya.

Saya berharap sudilah kiranya Bapak berkenan memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan wawancara sesuai dengan waktu yang tersedia.


                                                                                                                Hormat saya,



Taufik Hidayat


Lampiran: Resume     


§  GAMBAR 13.2: Surat Lamaran Kerja – Sumber Nama Seseorang

C.  Tips Untuk Pelamar Kerja
        Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh pelamar kerja adalah bahwa pelamar kerja sebenarnya sedang “menjual potensi diri” kepada perusahaan secara tertulis baik mencakup kepribadian, kualifikasi, pelatihan yang pernah diikuti, pengalaman kerja, dan hobi. Oleh karena itu, surat lamaran kerja dapat juga dikatakan sebagai surat penjualan. Sebagai pusat penjualan, paling tidak surat tersebut harus mudah dipahami, jelas, ringkas, tepat atau sesuai dengan pekerjaan, dan rapi dalm penampilan.

1.      Yang Perlu Diperhatikan
a.       Pelamar kerja harus mempunyai kualifikasi atau penagalaman kerja untuk posisi pekerjaan yang dikehendaki.
b.      Bangkitkan minat terhadap kualifikasi yang dimiliki.
c.       Tunjukkan hal-hal yang positif.
d.      Usahakan surat lamaran kerja rapi, bersih dan menarik.
e.       Tulislah surat dari sudut pandang pembaca, bukan dari susut pandang penulis.
f.       Tekankan hal-hal yang membedakan dengan pelamar lainnnya.

2.      Yang Harus Dihindari
a.       Jangan melamar pekerjaan diluar kemampuan.
b.      Jangan mengirimkan surat lamaran kerja hasil fotokopi.
c.       Jangan mengatakan bahwa Anda menerima pekerjaan apa saja.
d.      Hindari kata-kata yang berlebihan.
e.       Jangan meminta belas kasihan terhadap perusahaan yang dilamar.
f.       Hindari untuk mempermasalhkan gaji, kecuali jika ditanya pada saat wawancara kerja.
g.      Jangan memberi komentar langsung tentang karakter pribadi.























BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
       Surat lamaran keraj merupakan pintu gerbang pelamar kerja memasuki dunia bisnis. Oleh karena itu, pelamar kerja dapat menggunakan pendekatan Attention, Interest, Desire, and Action (AIDA)  dalam membuat surat lamaran kerja.
       Secara garis besar surat lamaran kerja mencakup tiga hal, yaitu paragraf pembuka, paragraf pertengahan, dan paragraf penutup. Paragraf pembuka lebih menekankan bagaimana pelamar kerja dapat menarik perhatian pembaca melalui suatu pernyataan rangkuman, nama person, sumber publikasi, pertanyaan, dan cuplikan berita. Paragraf pertengahan merupakn pemjelasan terhadap apa yang diminati dan sangat diharapkan oleh pembaca, seperti kualifikasi pendidikan, pengalaman kerja, dan berbagai minat dan aktivitas. Dalam surat lamaran kerja, paragraf penutup mencakup suatu tindakan yaitu untuk wawancara. Oleh karena itu, untuk mempermudah pemanggilan pelamar kerja, pelamar kerja perlu mencantum alamat yang lengkap yang memudahkan organisasi yang menawarkan lowongan kerja menghubungi pelamar kerja.

B.  Saran
       Semoga dengan selesainya makalah ini di harapkan agar para pembaca khususnya mahasiswa KPI dapat lebih mengetahui dan memahami penulisan surat lamaran kerja serta  dapat mengaplikasikannya dalam dunia bisnis.











DAFTAR PUSTAKA



Purwanto, Djoko. Komunikasi Bisnis, Jakarta: Erlangga, 2006
Finoza, Lamuddin. Aneka Surat Sekretaris dan Bisnis Indonesia, Jakarta: Diksi Insan Mulia, 1991
Ghaisani, Z.D. Nabila. Jurus Cepat Membuat Surat Lamaran (Kiat Melamar Pekerjaan). Yogyakrta: Absolut, 2003



etika komunikasi bermedia


ETIKA DALAM KOMUNIKASI BERMEDIA



disusun untuk menyelesaikan tugas presentasi pada mata kuliah
Etika Komunikasi



oleh :
kelompok XI
Alkausarni : 411106225
Ikhsanun Fahmi : 4111062
Raiful Mudassir : 4111062








Institut Agama Islam Negeri ar-Raniry
Fakultas Dakwah
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Darussalam, Banda Aceh
2012
Pengertian dan Signifikansi Etika dalam Media dan Komunikasi Massa*
October 15, 2011 § Leave a Comment
Joseph Pulitzer, Bapak pers AS, pernah mengatakan bahwa “surat kabar tanpa etika bukan hanya tak mampu melayani khalayak, melainkan justru akan berbahaya bagi khalayak”.[i] Media sebagai komunikasi massa tidak terlepas dari interaksinya dengan khalayak; publik sangat berhubungan dan bergantung terhadap media yang dikonsumsi oleh orang banyak. Apa yang disajikan oleh media atas perannya sebagai media komunikasi massa (ditujukan kepada orang banyak) sangat dapat mempengaruhi sikap dan perilaku massa itu sendiri.penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh media dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Oleh sebab itu, etika menjadi salah satu poin penting untuk menjaga media dan para pelakunya berada dalam jalur yang semestinya.
Nurudin dalam Pengantar Komunikasi Massa (2007: 239 – 270) menjabarkan secara lengkap terkait etika komunikasi massa. Nurudin dengan cermat memulai penjelasannya dengan menjabarkan latar belakang mengapa kita harus belajar tentang etika, perbedaan serta hubungan antara etika dengan etiket dan moral, serta menjelaskan secara rinci tentang pembagian etika dalam komunikasi massa.
Latar belakang dan pengertian etika
Mengutip Burhanudin Salam (2000), Nurudin memulai penjelasannya dengan memberikan definisi moral, yang berasal dari Bahasa Lati ‘mores’, berasal dari kata ‘mos’ yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral bisa diartikan sebagai ajaran kesusilaan, dan dengan demikian moralitas berarti hal mengenai kesusilan; moral juga berarti ajaran tentang baik buruknya perbuatan. Sementara itu, etika berasal dari Bahasa Latin juga, yaitu ‘ethic’, dan dalam Bahasa Gerik ‘ethikos’ yang diartikan sebagai a body of moral principles or values). ‘Ethic’ berarti kebiasaan, habit, atau custom. Dengan memahami penjelasan Burhanudin tersebut, Nurudin menjelaskan tentang etika sebagai berikut:
“Etika dengan sendirinya bisa diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat. Etika sendiri sering digunakan dengan kata moral, susila, budi pekerti, dan akhlak.” (Burhanudin Salam, 2000, dalam Nurudin, 2007: 242).
Nurudin juga meninjau beberapa pengertian tentang etika dari beberapa pakar, misalnya seperti K. Bertens (1994) yang menjelaskan bahwa etika sebagai “ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh yang berkaitan dengan moralitas.” Prof. I. R. Poedjowijatna (1986) menjelaskan “sasaran etika khusus kepada tindakan-tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja… etika berbeda dengan ilmu manusia… objek materi etika tetap manusia, tetapi objek formalnya adalah tindakan yang dilakukan manusia.” Sementara itu, Frans Magnis-Suseno (2001) membagi etika menjadi umum dan khusus: “etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang berlaku bagi segenap tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya dengan kewajiban moral manusia dalam berbagai lingkup kehidupannya.”
Lebih lanjut, Nurudin menjelaskan bahwa K. Bertens memilah-milah definisi etika dalam tiga hal, yaitu:
1.      Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, misalnya jika orang berbicara tentang “etika suku Indian”, “etika agama Budha”, “etika Protestan”, maka tidak dimaksudkan “ilmu”, melainkan nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh golongan tertentu. Secara singkat, arti ini bisa dirumuskan sebagai “sistem nilai”.
2.      Etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud di sini adalah kode etik (misalnya kode etik periklanan, kode etik jurnalistik, kode etik DPR, dan lanin-lain).
3.      Etika termasuk ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Etika baru menjadi ilmu, bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.
Kemudian, berdasarkan penjelasan Bertens itu, dapat dibedakan antara etikadengan etiket, yaitu sebagai berikut:
·         Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, menyerahkan buku dengan tangan kiri pada orang tua. Namun demikian, etika tidak terbatas pada cara yang dilakukannya suatu perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin tidak pernah diperbolehkan. “Jangan mencuri” merupakan norma etika. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri.
·         Etiket hanya berkalu dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain yang hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Sebaliknya, etika selalu berlaku, termasuk tidak ada saksi mata sekali pun. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain. Larangan untuk mencuri selalu berlaku, entah ada orang lain atau tidak. Barang yang dipinjam harus dikembalikan meskipun pemiliknya sudah lupa.
·         Etiket bersifat relatif. Hal yang dianggap tidak sopan pada suatu kebudayaan, belum tentu berlaku untuk kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut. “Jangan mencuri”, “jangan berbohong”, “jangan membunuh” merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak dapat ditawar atau diberi dispensasi. Memang benar ada kesulitan cukup besar mengenai kabsolutan prinsip-prinsip etis. Yang jelas, etiket lebih bersifat relatif.
·         Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriah, sedangkan etika menyangkut manusia dari dalam.Bisa saja orang tampil dengan “musang berbulu domba”, dari luar sangat sopan dan halus, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan. Banyak penipu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru penampilannya begitu halus dan menawan hati sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tidak merupakan kontradiksi, jika seseorang selalu berpegang pada etiket dan bersifat munafik, sebab seandainya dia munafik, hal itu berarti ia tidak bersikap etis.
Dari pendapat itu, Nurudin mengatakan bahwa etika dapat dikatakan sebagai bagian dari filsafat, sedangkan moral bagian dari etika. Louis O. Kattsoff, dalamElement of Philosophy, menjelaskan bahwa “etika merupakan penyelidikan filsafat tentang bidang moral, yaitu tentang kewajiban manusia serta yang baik dan yang buruk.”
Hal yang serupa disampaikan oleh Prof.  Adrianus Meliala[ii] bahwa “dalam idealnya, penentuan mana yang baik dan benar itu harus melibatkan teman diskusi, yaitu kolega (rekan atau teman sejawat), yang berasal dari kata colleague, merujuk pada kata collegiums (forum) dan sama halnya dengan college. Universitas sebagai college merupakan tempat berkumpulnya kaum intelektual yang merumuskan mana yang baik dan benar, dan dia adalah satu collegiums,satu forum bersama yang sama rata, tidak ada otoritas yang lebih tinggin dari pada kesepakatan bersama itu. Kemudian, hasil dari kesepakatan oleh orang-orang yang berasosiasi itu menghasilkan suatu rumusan etika. Dengan demikan, etika diartikan sebagai kualitas yang menjadi standar penilaian berjalan atau tidak berjalannya satu moral.”
Pada tulisannya ini, Nurudin juga menjelaskan mengapa penting bagi kita untuk mempelajari etika, terkait dengan media dan komunikasi massa. Beberapa alasannya adalah sebagai berikut:
1.      Semakin berkembangnya jaman dan semakin pluralnya masyarakat sekarang ini akan berdampak pada kepentingan individu yang kian tajam. Perkembangan teknologi komunikasi khususnya berdampak pada pemupukan sifat individu manusia. Karena manusia, pada dasarnya, adalah makhluk sosial, etika menjadi “pegangan” untuk hidup berdampingan dalam masyarakat plural. Tanpa etika, manusia akan menjadi “pemangsa” sesamanya.
2.      Romo Magnis-Suseno menjelaskan bahwa etika diperlukan kalangan agamawan yang di satu pihak menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman kepercayaan mereka, di pihak lain sekaligus mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan dengan tidak menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang berubah. Etika dibutuhkan sebagai ajaran yang ‘netral’ di antara ajaran-ajaran berbagai agama yang fungsinya dapat meredam konflik beragama.
3.      Etika menjadi penting agar di dalam masyarakat tercipta harmoni dan manusia mengetahui tugas, hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan adanya etika, sebagai “nilai masyarakat”, akan menjadi penyeimbang “nilai individu” dalam masyarakat modern yang cenderung hidup dalam individualisme yang disertai komepetisi hidup yang semakin berat.
4.      Pertumbuhan yang begitu besar dari media massa telah menjadikannya tidak sekadar mempengaruhi perubahan masyarakat, tetapi juga telah menjadi agen perubahan itu sendiri. Media massa juga memiliki peran untuk menentukan “baik tidaknya” masyarakat. Apa yang ditampilkan media massa akan diikuti oleh khalayak. Jika media massa tidak memiliki etika, maka akan tercipta masyarakat yang “bobrok”. Oleh sebab itu, etika akan memberikan “aturan main” terkait apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan oleh media massa. Tanpa etika, media massa akan menjadi liar dan mengancam eksistensi manusia.
5.      Dalam media terdapat berbagai pemangku kepentingan (pemilik modal, pemimpin redaksi, pemerintah, masyarakat, dan lain sebagainya), yang memiliki keinginan dan kepentingan yang berbeda satu sama lain sehingga berpotensi memunculkan conflict of interes (konflik kepentingan). Aturan konkret sangat dibutuhkan untuk membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di sini etika memainkan perannya; dia menjadi wadah dan tolak ukur dalam mengatur “pergaulan” antara media massa, pemerintah, dan masyarakat.
Lebih lanjut, Nurudin memaparkan alasan mengapa etika menjadi ukuran wajib dalam komunikasi massa. Hal itu disebakan:
“Komunikasi massa dalam prosesnya meibatkan banyak individu, sementara masing-masing individu mempunyai sifat khas berbeda yang menyebabkan berbeda pula dalam kepentingannya. Kepentingan yang berbeda itu akan “bertarung” dalam proses komunkasi massa. Tanpa ada etika, “pertarungan” akan menjadi perilaku mau menang sendiri yang buntutnya adalah kerusakan. Etika mengarahkan bagaimana sebuah isi media massa ditulis atau disiarkan. Bagaimana iklan yang sesuai etika dan lebih berguna bagi masyarakat. Bagaimana tayangan sinetron dan film membantu kemajuan masyarakat dan bukan merendahkannya. Bagaimana pula buku itu tidak sekadar menghibur, tetapi juga memberikan informasi dan pendidikan. Intinya, bagaimana isi pesan media massa itu “sesuai” dengan harapan ideal semua pihak. Memang sulit dan subjektif, tetapi bukan berarti tidak perlu diindahkan.” (Nurudin, 2007: 251)